Habar Kampung
Tradisi "Gunung Api" Masih Lestari di Desa Mahang Sungai Hanyar
Mahang Sungai Hanyar – Desa Mahang Sungai Hanyar, Kecamatan Pandawan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), memiliki sebuah tradisi unik yang masih terus dilestarikan hingga kini, yaitu tradisi “Gunung Api”.
Tradisi ini biasanya digelar pada malam pengantin, khususnya bagi pasangan duda dan janda yang baru menikah. Dalam prosesi tersebut, kedua mempelai diarak berkeliling desa dengan diiringi obor yang dinyalakan masyarakat. Obor-obor yang dibawa berjumlah banyak hingga tampak menyerupai gunung yang menyala, sehingga masyarakat menyebutnya sebagai “Gunung Api”.
Selain arak-arakan obor, ada pula atraksi menarik berupa semburan api yang dilakukan oleh pemuda desa, menambah suasana meriah dan semarak pada malam pesta pernikahan. Cahaya api yang berkilauan di kegelapan malam menghadirkan nuansa sakral sekaligus hiburan tersendiri bagi masyarakat yang menyaksikan.
Meskipun zaman terus berkembang dan teknologi semakin maju, tradisi “Gunung Api” tetap terjaga keberadaannya di Desa Mahang Sungai Hanyar. Bagi masyarakat setempat, tradisi ini bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga bagian dari identitas budaya yang diwariskan turun-temurun.
“Tradisi ini sudah lama ada, dari zaman orang tua dan kakek-nenek kami. Sampai sekarang masih kami laksanakan karena menjadi kebanggaan desa,” ungkap salah satu tokoh masyarakat setempat.
Dengan tetap dijaganya tradisi “Gunung Api”, Desa Mahang Sungai Hanyar menunjukkan komitmen untuk merawat kearifan lokal di tengah derasnya arus modernisasi. Bagi masyarakat, melestarikan budaya berarti menjaga warisan leluhur agar tidak hilang ditelan waktu.
Mahang Sungai Hanyar – Desa Mahang Sungai Hanyar, Kecamatan Pandawan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), memiliki sebuah tradisi unik yang masih terus dilestarikan hingga kini, yaitu tradisi “Gunung Api”.
Tradisi ini biasanya digelar pada malam pengantin, khususnya bagi pasangan duda dan janda yang baru menikah. Dalam prosesi tersebut, kedua mempelai diarak berkeliling desa dengan diiringi obor yang dinyalakan masyarakat. Obor-obor yang dibawa berjumlah banyak hingga tampak menyerupai gunung yang menyala, sehingga masyarakat menyebutnya sebagai “Gunung Api”.
Selain arak-arakan obor, ada pula atraksi menarik berupa semburan api yang dilakukan oleh pemuda desa, menambah suasana meriah dan semarak pada malam pesta pernikahan. Cahaya api yang berkilauan di kegelapan malam menghadirkan nuansa sakral sekaligus hiburan tersendiri bagi masyarakat yang menyaksikan.
Meskipun zaman terus berkembang dan teknologi semakin maju, tradisi “Gunung Api” tetap terjaga keberadaannya di Desa Mahang Sungai Hanyar. Bagi masyarakat setempat, tradisi ini bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga bagian dari identitas budaya yang diwariskan turun-temurun.
“Tradisi ini sudah lama ada, dari zaman orang tua dan kakek-nenek kami. Sampai sekarang masih kami laksanakan karena menjadi kebanggaan desa,” ungkap salah satu tokoh masyarakat setempat.
Dengan tetap dijaganya tradisi “Gunung Api”, Desa Mahang Sungai Hanyar menunjukkan komitmen untuk merawat kearifan lokal di tengah derasnya arus modernisasi. Bagi masyarakat, melestarikan budaya berarti menjaga warisan leluhur agar tidak hilang ditelan waktu. (TIM REDAKSI MSH MEDIA CENTER)